Postingan

Tipes bikin apess

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja sembuh dari sakit. Sakit yang tak pernah aku duga sebelumnya. Ya, aku sakit tipes. Tidak pernah terbayang sedikitpun kalo aku bisa terkena penyakit itu. Karena paling mentok ya cuma pilek, batuk, sama masuk angin. Aku tetiba sakit itu di hari Senin. Padahal, sabtu dan minggu sebelumnya aku masih sehat sehat saja. Sabtu masih sempat sepedaan sampe boyolali, dan Minggunya sepedaan sampe kalasan. Mungkin selama sepedaan itu aku kurang minum kali ya, jadinya dehidrasi, sehingga Seninnya saat bangun tidur kepalaku langsung pusing, terutama di bagian kening sama leher belakang. Dari siang, sampe sore, panasnya semakin bertambah, puncaknya di malam hari. Aku panas sekali, kata Ibuk wajahku sampe memerah. Paginya langsung saja ku periksakan ke dokter. Tensiku 112/66, gatau itu normal, tinggi, apa rendah. Kemudian diagnosa dokter tadi aku panas karena kekurangan cairan, dan disarankan agar banyak banyak minum air putih. Setelah 3 hari berobat tu, panasnya ...

Zin(e) bikin inginnn

Zine . Adalah   publikasi independen dan berskala kecil, sering kali berisi teks dan gambar asli, yang dibuat dan didistribusikan di luar sirkuit penerbitan arus utama, dengan tujuan berbagi ide atau minat spesifik dan jarang dicetak dalam jumlah besar .  Publikasi ini sering kali mencerminkan semangat "do-it-yourself" (DIY) dan fokus pada topik-topik unik, seperti seni, musik, politik, atau pengalaman pribadi (itu dari google ya guys).  Tahun lalu, 2024, aku sempat mengikuti open submisi zine. Aku tertarik karena aku suka dengan temanya "menangisi perpisahan dalam satu tangisan", mealnkoli sekali. Ya karena juga saat itu hubunganku dengan kekasihku sedang diujung tanduk, bukan tanduk karena masih lapar loo yaa. Untuk outputnya nanti zine nya akan dipamerkan selama beberapa hari. Open submisi ini diadakan oleh seorang fotografer, namanya Mas Desta aka Rukii Naraya. Seorang fotografer idolaku yang tinggal dan berkarya di Jogja. Karya fotonya semacam dreamy dreamy git...

Insecure dengan adik tingkat

Ya, sebagai mahasiswa semester 10, mengulang mata kuliah bukanlah sesuatu yang baru lagi. Mulai dari semester 7, saat teman teman sudah mempersiapkan proposal, aku masih mengulang beberapa matkul. Aku mengulang semester berapa ya waktu itu, kalo ga 3 ya 5. 1 atau 2 tahun dibawahku berarti.  Semua berjalan lancar lancar saja, tetapi yang lumayan asik itu saat aku mengulang matkul semester 3. Mata kuliah speaking, dengan dosen yang sudah pernah mengajarku sebelumnya. Aku pasti ingat, tetapi lumrah jika pak dosen tidak ingat denganku sama sekali, karena saat diajar oleh beliau, kuliahnya daring atau online. Aku suka tugas tugas yang diberikan, dan yang paling menyenangkan saat itu adalah ketika disuruh mempraktekkan sebuah mini drama, saat itu kelompok kami bercerita tentang roro jonggrang. Dialognya bukan yang panjang panjang juga, cukuplah untuk latihan di semester semester awal. Prosesnya dimulai dari pembagian karakter dulu, reading, sampai akting. Waktu pertunjukan menggunakan ko...

buka buka buku

Sepertinya hampir semua orang yang pernah bersekolah, memiliki ikatan emosional dengan buku. Entah dengan buku tulis, buku gambar, buku pelajaran atau buku duluu topengmuu, ehehe bukan dongg, buka dulu itu, mahh.  Teringat betul saat masih sekolah dulu, saat akan memasuki tahun ajaran baru. Ganti buku seperti menjadi hal yang wajib, karena ya sudah berbeda materi dengan semester sebelumnya. 32 lembar, 38 lembar sampai 58 lembar.  Beberapa hari sebelum masuk hari pertama, buku buku baru itu dibuka dari sampul plastiknya. Cover dibuka, dibalik cover aku sibuk menulis namaku, nomer absenku, kelasku dan mata pelajaranku. Sampai tak sabar aku mengisi lembar pertamaku saat sudah masuk. Setelah masuk sekolah, guru guru juga selalu membagi lks baru. Sampai aku suka pada setiap buku buku baru, entah itu buku tulis, buku pelajaran atau buku yang lainnya. Tentu saja buku itu tak ku biarkan bersih begitu saja. Mungkin awal awal masih bersih, sampai pada akhirnya buku buku itu penuh dengan...

Solusi untuk sekuntum emosi?

Beberapa orang memiliki cara masing masing untuk meluapkan emosi. Ada yang dialihkan ke hal yang positif, ada juga yang dialihkan ke hal negatif, kalo itu sesuai keyakinan masing masing ajaa sih yaa. Tetapi berbeda dengan Lek Dodo (nama samaran guys, nama aslinya Widodo). Beliau adalah tetanggaku, agak jauh, sudah beda desa dan beda kecamatan juga, tapi ga beda kabupaten, yang jelas beda lagi yaa perasaann, woohhhh. Usianya sudah separuh abad, dan rambutnya sudah mulai memutih, karena terkena bayclin, eheheh, candaa. Beliau sempat bercerita tentang salah satu cara beliau mengendalikan emosi, khususnya saat marah.  Kata beliau, kalo marah tidak usah yang ngomel ngomel apa yang mencak mencak, cukup dengan menyembelih ayam lalu dimasak dan dimakan sendirian. Seperti terdengar aneh, tetapi...ya agak aneh juga sih. Mungkin seperti ini maksudnya, dengan menyembelih ayam, kan pasti melalui proses juga, kalo punya ayam sendiri harus nangkep, kalo ga punya ayam sendiri ya ayam e tetanggane,...

Sepeda? Yuhuuu....

Bersepeda, lagi. Setelah septian lama, eh sekian lama maksud saya. Saya suka sekali bersepeda, kadang suka dua kali juga, entah mengapa rasanya menyenangkan. Seperti lebih cepat dari orang yang jalan kaki, tapi lebih lambat dari orang yang naik motor. Di tengah tengah. Tidak secapek orang jalan kaki, juga tidak seenak orang naik motor, kali ini tidak di tengah tengah. Haa yoo diklaksoni orang lain to kalo nyepeda nengah nengah, mbok yaa minggirr, hehe. Kebiasaan bersepedaku sebenernya nggak rutin rutin amat, ya kadang kalo jenuh, dan kebetulan cuaca sore sedang cerah dan hangat, sepertinya cocok untuk bersepeda. Mengingat masa kecil, saya termasuk orang yang terlambat untuk bisa naik sepeda. Teman teman yang lain saat masih tk sudah bisa naik sepeda, aku belum, baru bisa naik sepeda itu kelas 1 SD, itupun belajar dari minjem sepedane teman. Mungkin juga setelah sekian lama aku cuma minjam minjem sepeda, akhirnya Bapak Ibuku tergerak hati (dan dompetnya) untuk membelikanku sepeda. Alih ...

Kameraa ohh kameraa

Dulu sempat ramai trend pakai filter dari (roll) film zaman dulu di instagram. Aku sok sokan tidak mau ikutan, kalaupun memang ingin upload foto dengan hasil yang vintage seperti menggunakan roll film, ya harus pakai roll film beneran, pikirku ngeyel. Tapi saat itu, aku juga belum tau itu makek e gimana, beli kamerane dimana, beli roll film e dimana, dan ternyata hasile juga harus dicuci, tapi bukan dicuci pakai detergen lo yaa, apalagi dimasukkan laundryy, hadehh. Sampai pada satu waktu, saat aku dan temanku jalan jalan ke Pasar Legi. Saat itu fokusku teralihkan saat melihat beberapa  kamera lusuh berjejer dipajang. Aku dan temanku coba coba untuk mengecek apakah masih bisa digunakan. Untuk ngetesnya sebenarnya mudah, asal masih bisa kebuka apa ya namanya, intinya bisa untuk cahaya itu masuk ke dalam kamera. Awalnya penjual itu menawarkan dengan harga 30 ribu, itu borongan 6 kamera. Tapi setelah dicek, dan barangnya masih bisa dipake, harganya berubah, 1 kamera dibanderol menjadi ...