Zin(e) bikin inginnn
Zine. Adalah publikasi independen dan berskala kecil, sering kali berisi teks dan gambar asli, yang dibuat dan didistribusikan di luar sirkuit penerbitan arus utama, dengan tujuan berbagi ide atau minat spesifik dan jarang dicetak dalam jumlah besar. Publikasi ini sering kali mencerminkan semangat "do-it-yourself" (DIY) dan fokus pada topik-topik unik, seperti seni, musik, politik, atau pengalaman pribadi (itu dari google ya guys).
Tahun lalu, 2024, aku sempat mengikuti open submisi zine. Aku tertarik karena aku suka dengan temanya "menangisi perpisahan dalam satu tangisan", mealnkoli sekali. Ya karena juga saat itu hubunganku dengan kekasihku sedang diujung tanduk, bukan tanduk karena masih lapar loo yaa. Untuk outputnya nanti zine nya akan dipamerkan selama beberapa hari.
Open submisi ini diadakan oleh seorang fotografer, namanya Mas Desta aka Rukii Naraya. Seorang fotografer idolaku yang tinggal dan berkarya di Jogja. Karya fotonya semacam dreamy dreamy gitu, dan ditambah dengan story telling yang kuat yang menjadikan karyanya berbeda dengan yang lain.
Mungkin dengan mengikuti open submisi ini aku bisa mengekspresikan perasaanku dan bertemu dengan Mas Desta. Akhirnya aku kurasi beberapa foto dan tak lupa ku sempilkan beberapa puisi juga. Saat itu aku masih belum bisa bagaimana mendesain zine, juga mendesain untuk output cetaknya. Tololnya aku membuat zine pakai ms word dan berencana ku cetak dengan format booklet, tetapi beberapa fotocopy an tidak bisa, akhirnya aku pasrah dicetak ukuran A4 8 lembar.
Setelah jadi, aku ingin mengirimkan karyanya. Asik kesempatan untuk bertemu Mas Desta. Hari itu selasa kalau tidak salah. Aku sudah merencanakan untuk berangkat pagi, tetapi sayangnya tetanggaku ada yang meninggal sehingga aku melayat terlebih dulu kemudian siangnya baru berangkat.
Saat itu kami janjian di sebuah kafe, Mas Desta mengajak temannya juga, yang juga fotografer dan founder apaa yaa, semacam kegiatan jalan jalan gituu, asik pokokee. Setelah bertemu kami ngobrol ngalor ngidul, dan ternyata Mas Desta hari itu baru mengerjakan juga, akhirnya bisa melihat Rukii Naraya bekerja jugaa wkwk, sama seperti orang orang yang bertemu dengan Mas Desta sebelum sebelumku.
Sampai pada akhirnya aku perlihatkan zine ku. Mas Desta dan temannya tertawa, bukan bermaksud mengejek, tapi lucu katane, soale ukurannya A4, jadine malah kek kliping tugas sekolah. Ya terus terang aku belum pernah bukin zine dan gatau pake apk apa kalo mau ngedit ngedit gitu, sampai akhirnya aku diajari Mas Desra pakai apk canva. Ternyata lebih mudah dari yang aku bayangkan. Pertama tama menentukan ukuran dulu, saat itu aku pakai ukuran A5, lebih kecil dari sebelumnya.
Kemudian berlanjut dengan membuat cover, judul, subjudul lalu teks yang memperkuat gambar, sayangnya foto dan puisiku kurang banyak, karena buru buru mungkin ya. Oiya, aku mengerjakan itu dipinjemin laptopnya Mas Desta juga. Kami mengerjakana sampai sore, setelah kami selesai kemudian kami menuju ke percetakan. Kalimat yang paling aku ingat itu kalo nomer ganjil selalu disebelah kanan, itu bisa jadi patokan buat menentukan nanti akan di desain seperti apa. Karena waktunya tidak nyandak, akhirnya ditinggal saja dan aku titip uang ke Mas Desta dan lalu pulang.
Selang beberapa hari sebelum pameran dimulai, aku dan pacarku putus, damnn sakit bangett bruhhhh, mosokk yaa relate tema sama kejadian nyata dihidupkuu :'(. Akhirnya saat aku berangkat ke pameran itu aku cedihh, hikss. Menjadi semakin kuat aja tema pameran sama kehidupanku. Tapi sekarang dah balikan lagi ehehe setelah 8 bulan.
Setelah hari itu, aku mencoba untuk bikin zine lagi dari foto foto kamera filmku. Ada perasaan yang berbeda ketika aku bisa menikmati karyaku sendiri, melihat foto, puisi, atau sekedar quotes yang aku bikin sendiri, ehehe. Sampai sekarang baru bisa bikin 3 zine, yaa masih ada beberapa yang masih on progress belum selesai selesai, semoga bisa segera selesai terus cetak lagi deh. Aku masih belum pede untuk share karyake ke orang lain e.
Komentar
Posting Komentar