Di tengah persimpangan, sebelum sampai ke seberang jalan

Mengendarai supra lama, keluaran 2001, aku menjelajahi dunia. Ya walau masih sekitar Solo Jogja sajaa ehehe.

Terkadang, sesaat sebelum menyebrang, ada sedikit waktu untuk berpikir, dan gelisah.

Anak anak SMP SMA, kendaraannya bagus bagus, keluaran terbaru, entah orang tuanya kerja apa. Pikirku, dulu semua orang membeli barang baru itu cash, tidak nyicil, tapi sekarang, sepertinya cara pandangku berubah. Setelah bertemu sebagian orang yang memiliki kesimpulan hampir serupa dan sama, "la nek ra nyicil yo ora gek ndue", ya sudahlah tak apa, paling tidak, motor supra tidak membuatku pusing setiap bulan bayar angsuran. Tapi, kadang juga malu kalau semisal aku punya pacar dan aku boncengkan naik supra.

Sementara Bapak bapak, masih banyak yang pakai motor manual, entah kopling atau non kopling. Apa adanya, tidak terlalu bersih dan mengkilap juga. Seringnya penuh debu dan abu abu.

Yang membuatku berpikir adalah, apa iya, sebenarnya Bapak bapak tersebut mampu membeli motor baru, bahkan sudah punya motor baru, tetapi itu penunjang untuk anak anaknya terutama dalam mencari ilmu? Apa iya sang Bapak rela untuk memakai kendara seadanya untuk bekerja asal anaknya nyaman saat berangkat mencari ilmu? Wah barangkali aku besok akan seperti itu. Tetapi, misalpun kondisinya seperti itu, jauh lebih baik dariku yang baru punya supra tapi belum punya motor baru? 

Inginnya sih besok yaa aku tetep punya Harley buat berangkat kerja, dan gantian anakku yang naik supra ke sekolah, hihihi.

Aduh, sudah mau nyebrang tapi kok dari arah depan sepeda motor melaju kencang.

Aduh, jadi gelisah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhinya aku Sarjana, eh, Barista sik dingg

Pukul 10 malam, aku ingin tidur

Tipes bikin apess